Warga Sulawesi Barat Berduka, Wakil Gubernur Salim Sayyid Mengga Wafat
![]() |
| Salim Sayyid Mengga Wafat |
Bagi keluarga dan kolega, kepergian Salim bukan hanya kehilangan pribadi, tetapi juga sosok panutan yang menorehkan dedikasi konsisten dari dunia militer hingga pemerintahan daerah. Kehidupannya membuktikan bahwa pengabdian tidak mengenal usia, jabatan, atau batas wilayah.
Jejak Militer yang Membentuk Karakter
Lahir 24 Agustus 1951, Salim memulai perjalanan militernya dari AKABRI 1974, kecabangan Kavaleri. Selama bertugas, ia menjabat mulai dari Komandan Peleton hingga Panglima Kodam XV/Pattimura. Pangkat terakhirnya, Mayor Jenderal, menegaskan reputasinya sebagai perwira tegas, disiplin, namun dekat dengan anak buah.
Dari Militer ke Politik: Pengabdian Tanpa Henti
Setelah pensiun, Salim melanjutkan pengabdian melalui kontestasi politik. Ia pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulawesi Barat 2006, kemudian duduk di DPR RI periode 2009—2014 dan periode berikutnya di Komisi I. Pada 2025, ia terpilih sebagai Wakil Gubernur bersama Suhardi Duka, mencatatkan dirinya sebagai wakil gubernur tertua di Indonesia saat dilantik.
Keluarga dan Warisan Pengabdian
Salim berasal dari keluarga dengan rekam jejak pengabdian publik. Putra S. Mengga, pejuang kemerdekaan dan purnawirawan TNI, ia mencontohkan disiplin, dedikasi, dan kepedulian terhadap masyarakat. Jejaknya tidak hanya terekam secara formal, tapi juga dalam ingatan warga yang merasakan dampak langsung kepemimpinannya.
Warisan yang Tetap Hidup di Publik
Wafatnya Salim menutup perjalanan panjang seorang prajurit dan pemimpin daerah, namun pengaruhnya tetap terasa. Dari pangkalan militer hingga ruang pemerintahan, tindakan dan nilai yang ia tunjukkan menjadi cerminan pengabdian bagi generasi mendatang. Kehadiran Salim mengingatkan bahwa dedikasi sejati meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.
